Kepemimpinan Tim Cook di Apple segera berakhir. Saat John Ternus resmi menjabat sebagai CEO Apple pada 1 September mendatang, ia akan mewarisi portofolio perusahaan yang jauh berbeda dibandingkan era Steve Jobs. Cook mungkin melewatkan kesempatan membeli Tesla, namun ia sangat jeli mencaplok perusahaan kecil dengan teknologi kunci.
Selama satu dekade terakhir, strategi merger dan akuisisi (M&A) Apple fokus pada penguasaan teknologi inti yang kini kita gunakan sehari-hari. Cook tidak sekadar membeli merek, melainkan menyerap inovasi yang kemudian disuntikkan langsung ke dalam fitur iPhone, iPad, hingga Apple Watch.
Revolusi Keamanan Biometrik dan Audio
Jejak Cook yang paling terasa ada pada sistem keamanan perangkat. Pada Juli 2012, Apple membeli AuthenTec, perusahaan asal Amerika Serikat yang menjadi cikal bakal Touch ID pada iPhone 5s. Setahun kemudian, mereka mengakuisisi startup Israel bernama PrimeSense yang mengembangkan teknologi Face ID untuk iPhone X.
Namun, akuisisi paling berani terjadi pada 1 Agustus 2014 saat Apple meminang Beats Electronics. Dengan nilai mencapai US$3 miliar atau sekitar Rp48 triliun, ini adalah belanja terbesar dalam sejarah Apple. Langkah ini tidak hanya membawa headphone ikonik ke gerai Apple, tetapi juga menjadi fondasi lahirnya Apple Music.
Beberapa akuisisi kunci lainnya yang mengubah fitur perangkat meliputi:
- Workflow (2017): Aplikasi otomasi yang kini berubah menjadi fitur Shortcuts.
- Beddit (2017): Teknologi pelacakan tidur yang kini terintegrasi di Apple Watch.
- Shazam (2018): Layanan pengenal musik yang kini menyatu dengan sistem operasi iOS.
- Dark Sky (2020): Menjadikan aplikasi Weather di iPhone jauh lebih akurat dalam memprediksi hujan.
Amunisi Chip Mandiri dan Kecerdasan Buatan
Ambisi Apple untuk lepas dari ketergantungan pihak ketiga terlihat saat mereka membeli bisnis modem smartphone Intel senilai US$1 miliar (sekitar Rp16 triliun) pada 2019. Hasilnya mulai terlihat pada chip modem seluler perdana, C1, yang tertanam di dalam iPhone 16e tahun lalu.
Langkah ini memungkinkan Apple menghemat biaya lisensi besar-besaran yang selama ini dibayarkan kepada Qualcomm. Di masa depan, lebih banyak model iPhone diprediksi akan meninggalkan chip modem pihak ketiga demi efisiensi baterai dan konektivitas yang lebih stabil.
Menjelang akhir masa jabatannya, Cook juga mengakuisisi Q.ai senilai US$2 miliar (setara Rp32 triliun). Investasi besar ini diarahkan untuk memperkuat Siri dan Apple Intelligence, agar asisten virtual tersebut mampu bersaing dengan teknologi AI generatif yang semakin agresif.
Apa Artinya untuk Pengguna Indonesia?
Bagi pengguna di Indonesia, deretan akuisisi ini memastikan bahwa ekosistem Apple tetap relevan dan kompetitif. Integrasi layanan seperti Apple Music Classical—hasil akuisisi Primephonic—memberikan pilihan konten yang lebih kaya bagi penikmat musik di tanah air.
Selain itu, akuisisi studio game RAC7 yang membuat judul populer Sneaky Sasquatch menunjukkan komitmen Apple pada layanan Apple Arcade. Pengguna di Indonesia kini bisa menikmati konten game berkualitas tinggi tanpa iklan dengan biaya langganan bulanan yang terjangkau.
Akuisisi Pixelmator dan MotionVFX juga membawa angin segar bagi komunitas kreatif di Jakarta hingga Surabaya. Teknologi ini kini dilebur ke dalam Apple Creator Studio, memudahkan para konten kreator lokal untuk menyunting video profesional langsung dari iPad atau Mac mereka.
Kini pertanyaannya, perusahaan apa yang akan masuk dalam daftar belanja John Ternus saat ia mulai memegang kendali September nanti? Fokus pada AI dan konten imersif untuk Vision Pro tampaknya akan menjadi prioritas utama CEO baru tersebut.