Pemkab Natuna Gelar Lomba Bertutur SD Demi Lawan Adiksi Gadget
NATUNA — Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Disperpusip) Kabupaten Natuna menggelar Lomba Bertutur tingkat Sekolah Dasar (SD) sederajat sebagai langkah konkret memperkuat budaya literasi di wilayah perbatasan. Kegiatan ini merupakan respons pemerintah daerah terhadap fenomena anak-anak yang kini lebih banyak menghabiskan waktu dengan perangkat digital dan permainan daring.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Natuna, Hendra Kusuma, memberikan dukungan penuh terhadap inisiatif tersebut. Menurutnya, kemampuan literasi bukan sekadar hobi, melainkan pondasi utama dalam menentukan kualitas pendidikan dan wawasan akademik seorang siswa.
“Semua ilmu bisa diperoleh melalui membaca. Karena itu program literasi sangat penting untuk terus dikembangkan,” ucap Hendra Kusuma, Kamis (7/5/2026).
Literasi Jadi Kunci Kualitas Pendidikan di Sekolah
Hendra menjelaskan bahwa penguatan kemampuan baca-tulis dan numerasi sebenarnya telah diintegrasikan ke dalam aktivitas belajar mengajar di sekolah. Pemerintah daerah berupaya memastikan ketersediaan bahan bacaan bagi siswa agar minat baca tidak padam di tengah gempuran teknologi.
Setiap tahunnya, pengadaan buku bacaan baru rutin dianggarkan melalui dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS). Hal ini dilakukan agar perpustakaan sekolah tetap memiliki koleksi yang segar dan relevan dengan kebutuhan perkembangan anak saat ini.
Namun, Hendra menekankan bahwa fasilitas fisik saja tidak cukup. Keberhasilan program literasi di Natuna sangat bergantung pada kreativitas tenaga pendidik dalam mengemas suasana belajar yang menyenangkan di dalam kelas.
“Guru punya peran besar dalam membangun semangat belajar anak-anak. Literasi dan numerasi ini penting untuk melihat kemampuan peserta didik,” ujarnya.
Mengasah Komunikasi dan Keberanian Siswa di Depan Publik
Lomba Bertutur ini tidak hanya fokus pada pemahaman isi buku, tetapi juga melatih keberanian, kemampuan komunikasi, serta kreativitas siswa. Dengan tampil bercerita di depan umum, anak-anak diajak untuk mendalami narasi dan menyampaikannya kembali dengan gaya bahasa mereka sendiri.
Hendra mengakui tantangan terbesar saat ini adalah dominasi gadget yang menyita waktu belajar anak. Tanpa pendampingan yang ketat, budaya membaca akan terus merosot karena kalah bersaing dengan konten visual instan dari media sosial dan game online.
Ia mengajak seluruh elemen, mulai dari guru hingga orang tua di rumah, untuk menciptakan ekosistem yang mendukung anak kembali mencintai buku. Kolaborasi antara lingkungan rumah dan sekolah menjadi penentu apakah generasi muda Natuna mampu memiliki daya saing intelektual di masa depan.
“Ini menjadi tanggung jawab bersama agar anak-anak kembali gemar membaca dan tidak hanya terpaku pada permainan digital,” pungkasnya.