TANJUNGPINANG — Sebagian besar wilayah Indonesia, khususnya Pulau Bintan, tengah berada di puncak musim kemarau pada Agustus hingga September 2026. Musim kemarau kali ini diprediksi lebih kering dan lebih panjang dari biasanya akibat pengaruh fenomena El Nino, yang membuat sebagian warga mulai merasakan dampaknya, terutama warga yang belum mendapatkan akses air Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM).

Warga yang belum terjangkau akses PDAM selama ini masih mengandalkan air resapan atau air sumur untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Kondisi ini paling terasa bagi masyarakat yang bermukim di kawasan dataran tinggi Pulau Bintan.

Menurut salah seorang warga di Jalan Hanjoyo Putro, Kelurahan Batu IX, Kecamatan Tanjungpinang Timur, kekeringan sudah dirasakan sejak Agustus lalu, khususnya bagi warga yang selama ini memenuhi kebutuhan air hariannya dari sumber air resapan.

Secara geografis, sebagian besar wilayah Pulau Bintan didominasi dataran landai dan bergelombang, dengan ketinggian umum berkisar antara 0 hingga 50 meter di atas permukaan laut. Namun, di beberapa bagian pedalaman, elevasi meningkat membentuk kawasan perbukitan, termasuk di sekitar kawasan Jalan Hanjoyo Putro tersebut.

Di kawasan Jalan Hanjoyo Putro dan sekitarnya, sebagian besar masyarakat masih memenuhi kebutuhan air harian dari sumur, karena akses PDAM belum menjangkau wilayah tersebut. Akibatnya, untuk mencukupi kebutuhan air sehari-hari, warga terpaksa membeli air dari penjual dengan harga sekitar Rp65.000 per meter kubik.

Warga yang belum mendapatkan akses PDAM berharap pemerintah dapat segera menyalurkan jaringan air bersih ke wilayah-wilayah yang hingga kini belum terjangkau layanan PDAM.

Reporter: HASANUDIN