Tanjungpinang - Matahari baru saja meninggi ketika adonan semen dan pasir mulai diaduk di sudut Kampung Bukit, Minggu pagi, 9 Agustus 2026. Sejumlah lelaki dengan sepatu bot karet berdiri di atas gundukan pasir, mencangkul campuran cor yang kian mengental. Sebagian lain mendorong gerobak berisi material, hilir mudik dari tumpukan bahan ke area Lapangan Bima yang selama ini permukaannya tak rata dan becek saat hujan.
Di tengah kesibukan itu, Muhammad Sabri berdiri tak jauh dari para pekerja. Anggota DPRD Kota Tanjungpinang dari Daerah Pemilihan I Tanjungpinang Barat itu lebih dikenal warga dengan sapaan Combi ketimbang gelar politiknya. Pagi itu ia tak datang dengan seremoni, melainkan turut mengangkat cangkul, berbaur dengan warga RT 04/RW VII, Kelurahan Bukit Cermin, yang tengah bergotong royong melakukan semenisasi sarana dan prasarana Lapangan Bima.
Kegiatan ini digelar berbarengan dengan peringatan Hari Ulang Tahun ke-28 Partai Amanat Nasional (PAN), sekaligus menjadi ancang-ancang menyambut Hari Kemerdekaan Republik Indonesia yang tinggal beberapa hari lagi. Namun, alih-alih menggelar seremoni atau pawai, warga Kampung Bukit Cermin memilih cara yang lebih membumi: memperbaiki fasilitas lapangan yang selama ini menjadi ruang bersama mereka sendiri.
Semenisasi itu bukan proyek dari mana-mana. Seluruh material—semen, pasir, hingga perlengkapan kerja—merupakan bantuan dari Muhammad Sabri sebagai wujud kepeduliannya terhadap warga, sementara pengerjaannya dilakukan bergantian oleh warga yang datang sejak pagi. Sekretariat Bima Sekapur Sirih (BSS) di Jalan Kampung Bukit Nomor 26 menjadi titik kumpul—tempat warga singgah sejenak, minum air putih dari gelas plastik, sebelum kembali ke tengah lapangan yang basah oleh adonan semen.
Ketua RW setempat, Heri, mengaku pekerjaan ini sudah lama dinanti. Permukaan Lapangan Bima yang rusak itu, katanya, kerap membuat warga kesulitan memanfaatkannya, terutama saat musim hujan.
"Gotong royong kali ini kita fokuskan untuk semenisasi sarana dan prasarana Lapangan Bima yang memang sudah lama rusak dan cukup mengganggu warga, terutama saat hujan," ujar Heri, di sela pekerjaan yang belum juga rampung meski matahari kian terik.
Baginya, pekerjaan berat yang dipikul bersama terasa jauh lebih ringan, apalagi seluruh material sudah dibantu oleh Bang Combi. Warga, katanya, tinggal turun tangan dengan tenaga. Dan cara warga menyambut kemerdekaan tahun ini, ia menyebutnya, tak perlu muluk-muluk.
"Ini juga wujud nyata rasa syukur kita atas kemerdekaan yang telah diperjuangkan para pahlawan. Kita ingin menanamkan semangat kebersamaan kepada generasi muda, bahwa kemerdekaan itu harus dijaga dengan gotong royong dan persatuan," katanya.
Sabri, yang lebih banyak berdiri di pinggir lapangan sembari sesekali turun tangan, punya cara pandang tersendiri soal kemerdekaan. Baginya, kemerdekaan tak melulu soal upacara bendera atau lomba tujuh belasan.
"Bagi saya, gotong royong itu wujud paling sederhana dari rasa cinta tanah air. Kita tidak perlu jauh-jauh bicara soal perjuangan kemerdekaan, cukup lihat bagaimana warga rela meluangkan waktu, tenaga, bahkan rezekinya untuk kepentingan bersama. Itu sudah menjadi bukti bahwa semangat para pahlawan masih hidup di tengah kita," katanya.
Ia berharap semangat itu tak berhenti di lapangan yang baru saja disemenisasi. Sebab, katanya, kemerdekaan sejati justru diuji dari hal-hal kecil yang terus dijaga.
"Merdeka itu bukan cuma soal bebas dari penjajah, tapi juga bebas dari sikap acuh tak acuh terhadap lingkungan dan sesama. Selama warga masih mau bergotong royong seperti ini, artinya kemerdekaan itu betul-betul kita rasakan dan kita jaga bersama-sama. Saya cuma berusaha hadir dan sedikit membantu, tapi yang paling luar biasa adalah kekompakan warga RT 04 sendiri," ujar Sabri.
Rainov, salah seorang warga yang ikut mengaduk semen sejak pagi, punya kenangan lain soal gotong royong semacam ini. Baginya, momen seperti ini mengingatkan pada masa ketika kampung masih lengang dan warga saling kenal satu sama lain.
"Kegiatan seperti ini selalu bikin rindu suasana kampung yang dulu, di mana warga saling bantu tanpa pamrih. Apalagi menjelang 17 Agustus, rasanya semangat kebersamaan ini jadi pengingat bahwa kemerdekaan itu buah dari kerja sama, bukan usaha sendiri-sendiri. Terima kasih juga buat Bang Combi yang selalu hadir dan peduli sama warga di sini," kata Rainov.
Menjelang siang, sebagian permukaan Lapangan Bima yang tadinya rusak dan becek sudah tertutup rapi oleh lapisan semen baru. Warga membersihkan cangkul dan gerobak, lalu duduk melingkar untuk makan siang seadanya di depan Sekretariat Bima Sekapur Sirih. Tak ada panggung, tak ada pengeras suara. Hanya lapangan yang lebih baik, keringat yang sama, dan obrolan ringan menjelang perayaan kemerdekaan yang tinggal beberapa hari lagi.
Bagi warga Kampung Bukit Cermin, begitulah cara mereka merayakan usia ke-28 PAN sekaligus menyongsong 17 Agustus—bukan dengan seremoni yang meriah, melainkan dengan sarana bersama yang lebih layak, hasil dari tangan mereka sendiri.